Minggu, 30 Januari 2011

Sajak-sajak Kemanusiaan

CERITA
BERITA
DERITA


hari lalu

Ada kayuh atas pedal sepeda kumbang
melenguh
Ada dayung kuat tangan sampan kusam
mengarung
Ada puyuh bergerombol di langit riang
tak jenuh
Ada kidung senyum gadis sambil menyulam
kusanjung


hari ini

Ada darah sayatan daging di roda garang
gelisah
Ada ikan menghirup minyak tongkang tenggelam
geleparan
Ada merah langit panas membakar siang
gerah
Ada jamban terisi janin siapa jahanam
sialan


hari esok

Pertanggungjawaban.



Jember, 2004










_____________________________________________



CONGRATULATION, MALAYSIA


Selamat datang, kawan
Kutunggu sejak kemarin lalu
Sejak Sipadan-Ligitan berhasil kau adopsi
Karena terdengar keluh (bapak-ibu) negeriku
Tak mampu merawat melindungi
(padamu kami banyak hutang budi)

Kali ini
Kembali kuhaturkan terima kasih
Atas i’itikad super baikmu
Ingin mengadopsi Ambalatku

Kawan,
Kebaikan apa lagi yang kan kami terima
Sudah terlalu banyak jasa, hutang-hutang

Mulai dari tumpukan devisa keluh lenguh sengsara para pekerja. Kadang sempat kau beri bantal dalam ruang bui mahal saat mereka bosan tidur di rerimbun hutan.
Belum lagi perempuan-perempuan kesepian berbulan-bulan tinggalkan pejantan yang tak mampu memberi lahir batin. Dengan tulus kau beri cinta sekaligus kepingan kartal imbalan.
Menelurkan anak-anak tanpa marga yang lagi-lagi kau peranak(budak)kan. Lewat tangan sial (bapak-ibu) negeriku dengan sepicis tebusan. Diberilah nama rumah dan konsentrat dan sebuah lahan permanen untuk lubang lahad.

O, Malaysia
Aku berdecak heran
Membayangkan Sipadan-Ligitan
Pulau kecil tersia-siakan
Anak jadah tanpa masa depan

Kini kau tiba di Ambalat
Pulau jadah sekarat

Selamat datang, kawan

Suatu hari nanti kubayangkan
Kau mendarat di pulau
Bernama
JAKARTA
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .




Jember, 2004










_____________________________________________



SUPPORTER


lari ke tepi
lari ke tepi
nonton rame-rame
jago-jago bertarung
entah yang menang
entah yang kalah
cari tahu
tahu cari
dicari-cari malah sok tahu
ah, bosan aku
kamu juakah

lari ke pinggir
lari ke pinggir
lihat bareng-bareng
matador ngecoh banteng
entah yang pengecoh
entah yang terkecoh
mari menebak
ditebak mari
ditebak-tebak mari lari
aduh, sandalku lepas
terinjak kaukah

lari menjauh
lari menjauh
awas konspirasi
versi baru
entah yang benar
entah yang salah
coba menafsir
tafsir dicoba
dicoba-coba tiada akhir
wah, mendramatisir
kita bodohkah

istana kita sejak belantara gubuk tua hingga simbol kemegahan kota
kini menjelma arena sabung para srigala atau mungkin cuma kecoa
jadi sarang seburuk-buruknya

ke tepi saja
ke pinggir saja
sejauh
jauhnya
sambil menebak
mengira-ngira
mari bersorak
sama-sama


hop. . . . . . . . . ya. . . . . . . . . hop. . . . . . . . . .ya. . . . . . . . .hop. . . . . . . . .ya




Jember, 19-04-2007










_____________________________________________




PROKLAMASI SANG VETERAN


Hari ini
sadar
tak kukibarkan merahputih
di depan rumahku.



Jember, 17-08-2005










_____________________________________________



BATU KALBU


Berderu bongkahan batu
di kalbuku
Kulempar ke tengah danau
beriak lingkar seribu
Jadi gelombang
Menegur kedua kaki yang
kucelupkan sejak sejam berlalu

Setelah panas seharian
jalanan onak berdebu
Jalinan masa lalu
terpahat di tiap kerutan
kulit wajah
Seperti relief
kekal akan perubahan

Ketika beribu sanjung menampariku
batupun kupendam dalam-dalam

Aku tertunduk malu
Batu ini abadi berpadu kalbu
Memecahnya berpacu melawan waktu
Bongkah perbongkah kulempar ke danau biru



Jember, 2005










_____________________________________________



MAESTRO


Seekor macan sirkus
Ditertawakan
Di riuh tepuk tangan
Tak ada senyum
Mendengus letih dan keluh
–saya rasa apa yang dirasanya
Berada di tengah todongan para senjata
Penonton memenuhi tribun bagai opsir
Membacok-bacokkan bayonet ke jaring kawat pembatas

hio . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Gugup
Jatuh dari gelantungan tinggi.

Mati



Jember, 2004










_____________________________________________



SAJA


setiap
angin
sertakan
sejuk

setiap
air
sertakan
segar

setiap
api
sertakan
hangat

setiap
tanah
sertakan
subur

setiap
rayu
sertakan
jujur

setiap
kasih
sertakan
ikhlas

setiap
kerja
sertakan
serah

setiap
nafsu
sertakan
cinta

setiap
cahya
sertakan
jalan

setiap
gelap
sertakan
tenang

setiap
segala
sertakan
sahaja

setiap
tiap
sertakan
serta



Jember, 14-11-2005










_____________________________________________



GURU : UNTUKMU, MURID!
(di sebuah ruang ujian)


Ketika bunyi bel dua kali
Tanganku gemetar menyobek amplop coklat
Berukuran enam desimeter persegi
Lambat-lambat :
ada yang melipat tangan
ada yang menggaruk kepala
ada yang menggoyang pena
ada yang menyesatkan lamunan

Menunggu penuh debar
Isi amplof coklat :
gunung asa yang tinggi
lautan cita yang dalam
langit mimpi yang luas
angin obsesi yang buritan

Inilah saat memutuskan
Penentu hari kemudian. Kalian
Ganti menyobek amplop coklat. Segemetar begini
Nanti
Tongkatku yang gemetar. Juga secangkir kopi
Terludahi
Oleh kegagalan hari-hari
Kini :
cuma melipat tangan
cuma menggaruk kepala
cuma menggoyang pena
cuma menyesatkan lamunan
pada gunung
laut
langit
topan
dalam asa
cita
mimpi
obsesi
tak terlabuhkan.

–sampah sembilan tahun eksemplar
Bukan ini yang kalian butuhkan!



Jember, 2004










_____________________________________________



HARGA



Di selembar uangku ada gambar seorang pejuang

!

Di setiap berjuangku ada bayang setumpuk uang

?




Jember, 20-04-2007










_____________________________________________



SEBARA API BUAT SEORANG KAWAN
Fadelan dan Vivin


Ada tetanus di ujung paku
menancap kuat ke nadimu
Lambat-lambat denyut paru
Jantungpun tergendam candu
–temanku dulu, yang teguh. Sekarat terinjak sepatu
seorang Antoinette, bermuka Teressa

Kau tebus racun di gincu
seharga air susu ibu

Segera cabut paku itu
biar muncrat segala pura
Ini api buatmu
tuk membakar bekas luka

Atau kau tetap bertahan. beronani
dengan seonggok patung. dikebiri
Dan ibu terus memeras teteknya. rugi
dan aku terus bacakan puisi ini. sendiri



Jember, 2003










_____________________________________________



TEMANKU SI WAKER


k r i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i n g
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
waker berbunyi
di akhir malam sepi
gendang kuping terpecah
orang bangun terperangah
waker kian memekik
disusul gemuruh bedug
gema tarhim delapan penjuru

wakerpun segera dimatikan
sesegera dengkur kekalahan

padahal waker selalu tepat janji
waker tak mau dustai diri
asal tak telat makan
sebatang baterai seribuan
semakin penuh porsi baterai
semakin lantang waker menyeringai
kalahkan dengkur yang tenggelam
meski juga diam dibungkam

siapa si waker itu?
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

k r i i i i i i i i i i i i i i i i i i i i n g



Jember, 2005










_____________________________________________



MEREKA ADALAH IBU, ADIK, DAN ANAK KITA


Mawar
Duri
Harga

Mekar
Wangi
Nyawa

Mahar
Saksi
Perkosa

Makar
Quldi
cinta



Jember, 2004










_____________________________________________



A…


…ku kecolongan.
aku yang nyolong

…ku ditertawakan.
aku yang tertawa

…ku jatuh.
duh



Jember, 2005










_____________________________________________



KALAU


Kata tanpa makna
siasia
Makna tanpa kata
putus asa
Ada kata
maknakanlah
Ada makna
katakanlah
Kata dengan makna
adalah



Jember, 2004










_____________________________________________



FLEKSIBEL


bAhWa pUiSi
biSa sAjA diEdiT
diReViSi
diUbAh
sEwAkTuWaKtU
iBaRaT pEjAbAt
bUaT pEnDaPaT
yAnG biSa diRaLaT
sEmAuMaU



Jember, 22-11-2005










_____________________________________________



PUISI


belum tuntas setiaku
sudah habis lembar buku

tunggu



Jember, 2007










_____________________________________________



SANG WAKTU


Kini sang waktu telah tiba
saatnya menyatukan kita
maka sambutlah
sambutlah

Aku adalah sang keikhlasan
yang akan mengantarkanmu
ke surau itu
mendekap Qur’an dan kerudung keindahan
di tanganmu ruhku adalah keridloan
dalam hikmat
dan duduk simpuh yang penat

Aku adalah sang kelemahan
yang akan menafikanmu ke sudut-sudut
cengeng keputus-asaan
menangislah untuk sesuatu yang tidak penting
saat kau tersakiti oleh sahabat
atau dikala kau tersiksa oleh kerinduan
pada ayah dan ibu atau pada seseorang
yang pun merindukanmu

Aku adalah sang api semangat
yang akan membakarmu sewaktu-waktu
ketika kau terperangkap dalam beku
malas, bosan atau kejenuhan
memisahkan kesungguhanmu
antara jejak langkah dan belenggu

Aku adalah kemungkaran
yang akan menusukmu dari belakang
dengan fitnah dan serakah
kau tak perlu takut
karena aku akan mengajakmu menuju
singgasana kehebatan
menguasai sisi gelap yang hitam

Ya
ini fitrah dunia dan kejujuran
tanpa batas
bila kau ikhlaskan dirimu
dalam semangat pengabdian
maka semua makna ini milikmu

Jangan
jangan sampai terjerembab
dalam ruang keputus-asaan
karena dia akan menjerumuskanmu
ke palung kemungkaran

Percayalah
bahwa sang waktu begitu romantis
membelaimu dengan manja dan mesra
tapi
setiap saat dia begitu mengancam
kepolosan dan keluguanmu
kenalilah

Keikhlasan
Kelemahan
Api Semangat
Kemungkaran
Senantiasa
mengiring langkahmu
bertarik tolak antara cinta dan kebencian

Mencumbui jiwamu dalam adukan
Kesyahduan pencarian

Raihlah aku ke puncak-puncak restu
Jangan tinggalkan aku dalam kesedihan
Biar aku yang menuntunmu berlari
Atau kau ikut aku dan kau jadi hebat

Dunia ini untukmu
Atau kau menyerah dalam kegelapan



Jember, 18 Juli 2007










_____________________________________________



11 MEI 2002, IBU!
(untuk Ibu Dian Farida
IPA 3 SMAWON)


Belum sampai setahun
karena dua tahun dulu
anakmu
masih mereka-reka calon ibunya
seorang nenek sihir dan sapu lidi
siap
setiap saat mencambuk bokong kami
atau
seorang cuek tak berperi
tak mau tahu urusan itu ini
yang penting awal bulan terima gaji
masalah kelas urus saja sendiri.

Belum sampai setahun
semua reka praduga
hancur oleh mata kami sendiri
tinggallah gelengan kepala
bahwa ibu benar-benar ibu
ibu kami
dari tujuh belas kelas
hanya ibu dalam kagum akmi
jadilah wajar bila hari ini
kami berikan sebagian kekuatan
untuk merayakan kebahagiaan
bersama kami
meski belum tentu tahun depan
kami datang lagi.

Selamat ulang tahun, Ibu!



Jember, 11-05-2002










_____________________________________________

Tidak ada komentar:

Si Burung Merak

Si Burung Merak
Senyummu Abadi

Presiden Puisi Indonesia

Presiden Puisi Indonesia
Sutardji Calzoum Bachri

Pahlawan Puisi

Pahlawan Puisi
Hamid Jabbar
Loading...